Kawin Massal, Sejak 1943 Silam

Serdang  – Pesta pernikahan atau yang sering dikenal kawin massal di desa Serdang Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan (Basel) telah berlangsung sejak dari tahun 1943 silam.

Apendi selaku Kepala Desa Serdang mengatakan, Pernikahan massal itu dilaksanakan oleh masyarakat desa Serdang setiap 1 tahun sekali setelah panen sahang (Lada) dan padi.

Pesta pernikahan massal pertama kali dilaksanakan pada tahun 1943 “Acara pernikahan massal ini merupakan adat desa Serdang, sudah menjadi tradisi setelah dari panen lada dan padi,” jelas Apendi seraya mengingatkan. Namun akhir-akhir ini peserta atau calon pengantin yang ikut cuma sedikit dan tidak seperti dulu hingga mencapai puluhan calon pengantin.

Para pasangan pengantin ada yang dari luar desa Serdang, kalau calon perempuannya penduduk desa setempat, sedangkan calon lakinya dari luar desa begitu juga sebaliknya, “Calon pengantin paling banyak 21 pasangan calon dan paling sedikitnya 6 pasangan calon pengantin massal, Acara pernikahan massal mulai dilaksanakan pada pagi hingga malam hari dengan menampilkan berbagai hiburan kesenian lokal seperti atraksi pencak silat, tarian dan hiburan band. 

“Sebelum acara pesta di mulai ada beberapa ritual pada malam hari sebelum hari-H, taber air dari ujung kampung, bakar lilin di setiap pintu masuk menuju desa. Ritual ini dilaksanakan tepat pada pukul 00.00 Wib. Sebelum ritual, kita doa bersama dirumah ketua adat dan paginya baru acara puncak dengan mengarak para calon pengantin keliling kampung yang disertai dengan taburan beras kuning,” ujar Apendi.

” pada Tahun 1985 yang saat itu saya masih kelas 2 SMP (Sekolah Menengah Pertama), ada orang dari luar negeri yang datang ke desa Serdang melihat acara pesta nikah massal. Tahun lalu (2016) sejumlah mahasiswa dari universitas di Indonesia juga datang ke desa hanya untuk melihat adat pernikahan massal dan mencari bahan untuk karya ilmiah tentang asal usul pernikahan massal di desa Serdang,”

Lanjutnya Apendi menjelaskan, adat pernikahan massal ini merupakan salah satu potensi wisata di Kabupaten Basel sejak dari dulu. Oleh sebab itu, adat inipun menjadi agenda tahunan desa Serdang, tamu undangan yang hadir di acara ini pun dari berbagai daerah di Provinsi Bangka Belitung (Babel). Bahkan, tamu dari luar negeri pun sempat hadir menyaksikan acara tahunan tersebut.

“Anggaran untuk kegiatan tersebut kita siapkan disamping adanya bantuan dari pemerintah daerah. Besaran anggaran setiap tahunnya bervariasi disesuiakan dengan jumlah calon pengantin,” tuturnya menambahkan masyarakat ikut terlibat dalam kegiatan tersebut dengan menyumbangkan 3 canting (Kaleng_red) beras perkepala keluarga (KK) serta bantuan uang meski alakadarnya.

“Kegiatan nikah massal ini melibatkan masyarakat banyak, karena inilah salah satu bentuk persatuan dan persaudaraan di desa Serdang sejak dari dulu. Siapapun boleh hadir untuk menyaksikan adat pernikahan massal di desa Serdang,” pungkasnya.

Sementara itu selaku Kaur Pembangunan desa Serdang, Taruna menambahkan, acara pesta nikah massal di desa setempat dilaksanakan setiap bulan Oktober setelah dari panen lada. “Selain nikah massal, di desa kita juga terdapat wisata pantai dan wisata alam hutan yang masih alami serta wisata religi. Kita ada pantai Tanjung Labun, wisata hutan adat seluas 23 hektar dan makam keramat batin kuning,” kata Taruna menjelaskan bahwa di pantai Tanjung Labun sudah dibangun 2 unit pondok saung untuk tempat santai.

“Setiap hari minggu pantai itu selalu ramai dikunjungi masyarakat. Kalau di kawasan hutan adat itu terdapat berbagai ratusan jenis pohon kayu yang besar-besar seperti nyatoh. Bahkan, binatang kera dan beruk pun masih banyak terdapat di kawasan hutan itu dan mistisnya pun masih tinggi. Kayu-kayu disana tidak ada yang berani mengambilnya apalagi menebangnya,” pungkasnya.

Ia menambahkan, akses jalan menuju ke pantai Tanjung Labun, kawasan hutan adat dan makam keramat cukup bagus. “Siapapun boleh berkunjung dan menikmati suasana wisata yang ada di desa Serdang. Jalan menuju ke berbagai tempat wisata di desa kita cukup bagus. Jarak tempuh dari desa ke kawasan hutan adat, pantai Tanjung Labun dan makam keramat itu sekitar 10 kilometer,”.(tim)

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Tim
Editor: 
Edi Saputra
Bidang Informasi: 
Kominfo